
Apa itu Upāsaka/Upāsikā? Dan Bagaimana Cara Menjadi Upāsaka/Upāsikā yang Baik?
Sumber :
Mahānāma Sutta, Aṅguttara Nikāya 8, 25
Caṇḍāla sutta, Aṅguttara Nikāya 5, 175
Dakkhiṇāvibhanga Sutta, Majjhima Nikāya 142
Sahabat Dhamma, kita mengenal istilah Upāsaka dan Upāsikā dalam agama Buddha. Istilah Upāsaka dan Upāsikā juga sudah ada sejak jaman Sang Buddha. Apa sebenarnya arti dari Upāsaka Upāsikā itu?
Dalam kamus bahasa Pali, Upāsaka diartikan sebagai umat berumah tangga pria/umat awam pria. Sedangkan Upāsikā diartikan sebagai umat awam wanita, umat berumah tangga wanita. Sang Buddha menjelaskan dalam Aṅguttara Nikāya, yang disebut umat awam dalam agama Buddha adalah ia telah berlindung pada Sang Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Lalu bagaimana cara menjadi Upāsaka/Upāsikā yang baik?
Cara menjadi Upāsaka/Upāsikā yang baik :
- Berkeyakinan teguh pada Buddha, Dhamma dan Sangha. Hal pertama yang harus dilakukan untuk menjadi umat awam yang baik adalah yakin dan berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Hal itu dapat kita lakukan dengan cara sering membaca Paritta Tisarana dengan penuh keyakinan. Selain itu, kita harus meneladani sifat luhur Buddha, Dhamma, Sangha dalam kehidupan sehari-hari.
- Ia bermoral. Aturan moral yang berjumlah lima (Pancasila Buddhis) adalah pedoman dasar yang harus kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi Upāsaka/Upāsikā yang baik yaitu melatih diri untuk menghindari pembunuhan makhluk hidup, melatih diri untuk menghindari mencuri, melatih diri untuk menghindari perbuatan asusila, melatih diri untuk menghindari ucapan bohong, dan melatih diri untuk menghindari minum-minuman keras yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran.
- Ia tidak percaya pada takhayul melainkan seharusnya mempercayai kamma dalam menghadapi berbagai fenomena dalam kehidupan ini. Ia mempercayai adanya hukum sebab akibat, yaitu apapun yang ia lakukan, maka itulah yang akan ia petik.
- Ia tidak mencari orang yang layak menerima persembahan di luar dari sini (sangha). Dalam Majjhima Nikaya Sang Buddha menjelaskan bahwa memberikan persembahan kepada sangha dapat menghasilkan jasa yang mendukung kesejahteraan dan kebahagiaannya untuk waktu yang lama di masa depan.
- Ia melakukan perbuatan-perbuatan berjasa di sini terlebih dulu (sangha)
Perbuatan berjasa kepada sangha harus diutamakan. Sang Buddha lebih lanjut menjelaskan :
“Ketika seorang bermoral memberi kepada seorang yang bermoral, dengan percaya memberikan suatu pemberian yang diperoleh dengan benar, meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, pemberian itu, Aku katakan, akan berbuah sepenuhnya.”

