
Cara Menegur Seseorang dengan Cara yang Benar
Sabahat Dhamma, seringkali kita menjumpai orang lain berbuat yang kurang baik sehingga kita ingin menegurnya dengan tujuan yang baik. Namun terkadang teguran itu justru malah membuat orang lain tersinggung jika tidak disampaikan dengan cara yang benar. Lalu bagaimana cara yang benar untuk menegur seseorang menurut Sang Buddha?
- Kita harus mempertimbangkan waktu yang tepat. Mengetahui waktu yang tepat saat menegur orang lain adalah hal yang sangat penting, karena dengan waktu yang tepat seseorang tidak akan merasa tersinggung. Dan teguran kita akan bermanfaat untuk orang tersebut. Salah satu contohnya kita tidak menegurnya saat ia berada di sekitar banyak orang.
- Berbicara dengan jujur, bukan dengan berbohong. Berbicara jujur ini maksudnya kita benar-benar menegur kesalahannya, bukan dengan cara melebih-lebihkan atau bahkan tidak berbicara sesuai dengan kesalahannya. Hal itu tentunya sangat berbahaya karena dapat menjatuhkan nama baik seseorang.
- Berbicara secara halus, bukan secara kasar. Menegur seseorang tidak berarti kita berucap kasar kepada orang tersebut. Menegur orang seharusnya memberi tahu kesalahan dengan cara yang halus, tidak kasar atau bahkan berbicara dengan keras kepada orang lain. Hal ini tentunya dapat membuat teguran kita bermanfaat untuk orang tersebut, bukan malah memberikan rasa tidak nyaman. Hal yang harus kita ingat adalah, kita menegur seseorang karena ingin meluruskan kesalahannya, bukan untuk menghakiminya.
- Berbicara dalam cara yang bermanfaat, bukan dalam cara yang berbahaya. Ucapan yang bermanfaat akan memberikan kedamaian bagi pendengarnya. Ucapan yang dapat meluruskan seseorang, bukan membuat orang lain berada dalam bahaya dan merasa tidak nyaman.
- Berbicara pikiran cinta-kasih, bukan dengan memendam kebencian Ucapan benar didasari dengan pikiran benar. Ketika pikiran penuh dengan cinta kasih, maka ucapan seseorang akan menjadi menyenangkan pula. Kata yang penuh cinta kasih menjadi seperti motivasi bagi pendengarnya agar ia benar-benar mengetahui kesalahannya dan memperbaikinya.
Kata-kata yang positif tentunya akan membuat seseorang menyesal akan perbuatan buruknya tanpa memendam rasa kebencian terhadap penegurnya. Sang Buddha berkata dalam Dhammapada
“Daripada seribu kata yang tak berarti, adalah lebih baik sepatah kata yang bermanfaat, yang dapat memberi kedamaian kepada pendengarnya.”

