
Penyebab Kita Menderita
Tidak ada satu makhluk pun di dunia ini yang tidak pernah mengalami penderitaan. Itu adalah fakta yang tidak dapat dihindari, walaupun mungkin kita sangat tidak senang menerima kenyataan itu. Penderitaan sudah dimulai sejak kita lahir. Kita tidak memiliki ingatan yang sadar tentang kehidupan di dalam rahim, tetapi pengalaman umumnya adalah bahwa kita muncul dari rahim dengan menangis.
Setelah memulai kehidupan, lambat laun kita semua pasti mengalami penderitaan karena sakit dan usia tua. Meskipun tidak ada manusia yang menginginkan penderitaan, tapi inilah kenyataan hidup. Proses kehidupan terus berjalan. Berbagai jenis rasa sakit fisik atau mental selalu datang dan pergi.
Tapi apakah Anda pernah berpikir bahwa kemelekatan adalah tingkat terdalam dari sebab penderitaan? Penderitaan merupakan kemelekatan besar yang telah kita kembangkan pada tubuh ini, dan pada pikiran ini. Kemelekatan pada sesuatu yang sebenarnya selalu berubah ini merupakan penderitaan. Kita menginginkan tubuh yang sehat dengan berpikir “saya menyukai tubuh saya yang sehat,” lalu Anda juga berpikir “saya sangat menyayanginya, saya tidak akan melepasnya,” ini juga merupakan sebuah kemelekatan besar yang pasti akan menimbulkan penderitaan.
Kemelekatan ada pada diri, pada “aku”, pada ego, pada bayangan yang kita miliki tentang diri kita sendiri. Bagi kita masing-masing, “aku” ini adalah orang yang paling penting di dunia. Kita bertingkah laku bagaikan suatu magnet yang dikelilingi oleh serbuk besi. Magnet itu secara otomatis akan mengatur serbuk dalam pola yang berpusat padanya. Dan tanpa banyak perenungan, secara instink kita mencoba mengatur dunia ini menurut kehendak kita, berusaha menarik masuk apa yang menyenangkan dan mendorong keluar apa yang tidak menyenangkan. Padahal sebenarnya tak seorang pun dari kita yang merupakan dunia sendiri. Satu “aku” pasti akan konflik dengan “aku” yang lain. Pola yang ingin kita ciptakan ini ternyata terganggu oleh medan magnet orang lain, dan kita sendirilah yang kemudian terpengaruh oleh penarikan atau penolakan itu. Tak bisa lain, hasilnya adalah ketidakbahagiaan, penderitaan.
Juga kita tidak membatasi kemelekatan pada “aku” ini saja. Kita memperluasnya pada “milikku”, pada apa yang menjadi milik kita. Kita masing-masing mengembangkan kemelekatan yang besar pada apa yang kita miliki, karena milik kita itu berhubungan dengan diri kita, dan itu mendukung bayangan tentang “aku”. Kemelekatan ini sebenarnya tidak akan menimbulkan masalah seandainya saja apa yang kita sebut “milikku” itu abadi, dan “aku” bisa selalu menikmatinya secara abadi. Namun faktanya adalah, cepat atau lambat “aku” ini pasti terpisah dari “milikku”. Saat berpisah pasti akan datang. Pada saat berpisah itu, makin besar kemelekatan pada “milikku”, makin besar pula penderitaannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemelekatan dan penderitaan selalu berjalan bersama.

